Kematian Bisa Dipesan


Natriumpentobarbital (NAP)

Natriumpentobarbital (NAP)

If I die before I wake Pray the lord my soul to take, itulah penggalan lagu Enter Sandman, Metallica yang berkisah tentang kehidupan. Di Swiss, akhir sebuah kehidupan bisa dipesan. Keluarga, kerabat atau orang-orang yang dipercayanya, atas permintaan yang bersangkutan, bisa menyaksikan proses kematian tak wajar itu. Polisi datang belakangan, sekadar memeriksa, apakah bunuh diri itu sesuai aturan, atau sembarangan. Jika aturannya dipatuhi, mati pesanan itu, tak lebih dari bussines as usual.

Salah satu kisah “sukses” bunuh diri itu diungkapkan Ueli, ketika Hans, ayah kandungnya, pada suatu pagi memilih kematiannya sendiri. Ralph, petugas organisasi nirlaba bantuan bunuh diri, tutur Ueli, baru tiba ketika waktu menunjukkan pukul 10.00.

“Saya dan Martin (kakak Ueli) sudah datang setengah jam lebih awal, sebagaimana dikehendaki ayah,” tuturnya.

Mereka berempat, kenang Ueli, setelah berbasa-basi sebentar, berkumpul di kamar tidur Hans. “Boleh saya minum anggur?” tanya Hans kepada Ralph.

“Tak apa, asal tak terlalu berlemak,” jawab Ralph.

Perbincangan selanjutnya berkisar antara kenangan lama keluarga itu. Ralph, selain petugas dari lembaga bantuan bunuh diri, juga sahabat pribadi Hans. “Saya dan Martin lebih banyak berdiam,” ungkap Ueli. “Sekarang saatnya kamu, Ralph, menjalankan bagaimana proses kematian ini,” pinta Hans.

Ralph, kenang Ueli, tak bereaksi banyak. Barulah setelah menutup percakapan berikutnya, Ralph mengambil cairan dalam botol bening, sekaligus mencampurkan air ke dalam gelas. “Apakah itu obat kematianku,” tanya Hans. “Bukan, ini hanya obat antimuntah,” kata Ralph.

Hans memandang semua yang ada di ruangan itu, seakan-akan ingin menjelaskan sekali lagi, bahwa dia memiliki kehidupan yang indah sebelumnya. Setelah 20 menit, barulah Ralph memungut botol cokelat kecil berisi Natriumpentobarbital (Nap), cairan yang hingga saat ini dianggap paling tepat untuk mengakhiri kematian. “Hans, sekali lagi, apakah kamu memang betul-betul ingin mati dengan cara ini.Tak ada salahnya jika memang ragu dan menghentikannya,”kata Ralph.

Hans menggeleng dan menyatakan tetap ingin mengakhiri hidupnya, sekaligus ingin duduk selama meminum cairan kematiannya itu. “Hans, rasanya akan sangat pahit di lidah, ya, “pesan Ralph. “Tak apa, saya sudah banyak menelan kepahitan dalam hidup ini,”tutur Hans. Dalam satu tegukan, meluncurlah cairan maut itu melalui mulut, tenggorokan,lalu ke lambung. Ralph mengangsurkan segelas air putih untuk menghilangkan rasa pahit.

Sambil berbaring,Hans masih bisa mengisahkan kehidupannya. Bahkan,ia masih ingat tiga teman lamanya melakukan bunuh diri dengan cara lain. Pandangannya tidak lagi tajam, kelopak matanya perlahan menutup, bahkan kepalanya mulai luruh. Namun, Hans masih bisa berbicara. “Satu orang menabrakkan diri ke kereta, yang kedua bunuh diri dengan senjata api, sementara yang ketiga melompat dari jembatan,” tutur Hans. Setelah itu, Hans terlihat tertidur. Ralph, Martin, dan Ueli berdoa di samping Hans.

“Saya pegang tangannya, denyutnya masih ada, tetapi makin melemah. Napasnya juga makin hilang, sampai akhirnya saya tak tahu lagi apakah masih bernapas atau tidak,” kata Ueli.

Dalam hitungan menit berikutnya, Hans secara resmi dinyatakan meninggal dunia. Mereka bertiga mesti menyingkir dari kamar itu, dan tak boleh menyentuh barang-barang itu, terutama gelas dan bekas botol cairan maut itu. Atas telepon Ralph, satu jam berikutnya, datanglah polisi memeriksa apakah bunuh diri itu sesuai aturan pemerintah atau tidak.

Kematian ala Hans hanyalah satu dari ratusan kematian bunuh diri pesanan ala Swiss. Exit, salah satu organisasi nirlaba khusus menangani bunuh diri, mencatat sedikitnya 150 orang saban tahun bunuh diri ala Hans.

“Ada tendensi dari tahun ke tahun meningkat,” tulis Exit dalam situsnya. Sementara calon warga Swiss yang menginginkan kematian ala Hans, hingga kini sudah mencapai 50.000.

“Saya sendiri tak mau hidup dalam kualitas jelek, lebih baik mati lewat cara Exit ketimbang menderita sakit bertahun-tahun,” ungkap Lars, salah satu anggota Exit, kepada Seputar Indonesia.

Untuk menjadi anggota Exit, kata Lars, cukup membayar iuran tahunan 45 swiss franch, atau setara Rp400.000-an. Jika suatu saat ingin meninggal melalui tangan Exit, Lars tak akan lagi dikenai biaya tambahan jika keanggotaannya sudah mencapai tiga tahun.

Sementara yang bukan anggota, Exit memungut biaya sedikitnya 900 swiss franch, setara Rp8 jutaan. Adakah semua keinginan kematian pesanan itu dikabulkan Exit? Tampaknya tidak.

Beberapa syarat khusus harus dipenuhi, antara lain penyakitnya tak bisa disembuhkan lagi, dan tentu saja atas permintaan yang bersangkutan; dan,tentu saja harus warga Swiss.

“Orang asing boleh saja jadi anggota Exit, tetapi harus berdomisili di Swiss,” tulis Exit.

Hans, yang semasa mudanya menjadi seorang eksekutif perusahaan patungan Amerika-Swiss, mengalami penyakit akut yang sulit disembuhkan. Bagaimana peluang orang asing atau turis yang ingin mati buatan ala Swiss? Tak terlalu sulit. Selain Exit, Swiss juga memiliki organisasi nirlaba yang banyak membantu bunuh diri orang asing. Dignitas adalah jawabannya.

Hanya, keberadaan Dignitas hingga kini menuai banyak protes dari warga Swiss. Jika bukan karena proses kematiannya, Dignitas juga memanen kritik lantaran tempat eksekusi dan pembuangan abunya.(Koran SI/Koran SI/nsa)

Sumber:
http://lifestyle.okezone.com/read/2009/10/24/29/268829/kematian-bisa-dipesan


About this entry